Jumat, 08 Maret 2013

IAD-ISD-IBD pelapisan sosial


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pelapisan sosial dewasa ini membawa paradigma baru dalam dalam masyarakat perkotaaan maupun pedesaan, yang membawa dampak pada kehidupan mereka dalam berbagai segi kehidupan, Pitirim A. Sorokin memberkan definisi bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan.
jadi dari kesimpulan di atas banyak perbedaan antara lapisan masyarakat yang condong ke yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

B.     Rumusan Masalah
1.      apa yang melatar belakangi pelapisan social dalam masyarakat?
2.      bagaimana cara atau solusi terbaik untuk itu?

C.     Tujuan
1.      sebagai kajian dalam menangani pelapisan social yang terjadi dalam masyarakat
2.      mahasiswa mampu mengerti tentang pelapisan social.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pelapisan Sosial
Istilah Stratifikasi (Stratification) berasal dari kata straf atau stratum yang berarti lapisan oleh karena itu, social stratification sering di terjemahkan dengan pelapisan sosial.[1] Pitirim A. Sorokin memberkan definisi bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya atau bertingkat-tingkat dari segi jabatan maupun tingkat sosialnya dalam kehidupan masyarakat. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosial. P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan. Istilah stand juga dipakai oleh Max Weber.
Dasar-dasar pembentukan pelapisan sosial
Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut :
1.      Ukuran kekayaan    Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.


2.      Ukuran kekuasaan dan wewenang.
Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.
3.      Ukuran kekuasaan dan wewenang.
Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.
4.      Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
5.      Ukuran ilmu pengetahuan
Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.
Kriteria diatas tidaklah bersifat mutlak karena masih ada criteria lainnya. Akan tetapi, criteria itu paling banyak digunakan sebagai dasar pembentukan pelapisan social.
1.      Tiga Sifat Stratifikasi Sosial Menurut Soerjono Soekanto, dilihat dari sifatnya pelapisan sosial dibedakan menjadi sistem pelapisan sosial tertutup, sistem pelapisan sosial terbuka, dan sistem pelapisan sosial campuran. yaitu :
1)      Stratifikasi Sosial Tertutup (Closed Social Stratification)
Stratifikasi ini adalah stratifikasi dimana anggota dari setiap strata sulit mengadakan mobilitas vertikal. Walaupun ada mobilitas tetapi sangat terbatas pada mobilitas horisontal saja. Contoh:
1.      Sistem kasta.
Kaum Sudra tidak bisa pindah posisi naik di lapisan Brahmana.
2.      Rasialis.
Kedudukan kulit putih lebih tinggi daripada kulit hitam ( negro)
3.      Feodal.
Kaum buruh tidak bisa pindah ke posisi juragan/majikan.
2)      Stratifikasi Sosial Terbuka (Opened Social Stratification)
       Stratifikasi ini bersifat dinamis karena mobilitasnya sangat besar. Setiap anggota strata dapat bebas melakukan mobilitas sosial, baik vertikal maupun horisontal. Contoh:
-          Seorang miskin karena usahanya bisa menjadi kaya, atau sebaliknya.
-          Seorang yang tidak/kurang pendidikan akan dapat memperoleh pendidikan asal ada niat dan usaha.
3)      Stratifikasi Sosial Campuran
      Stratifikasi social campuran merupakan kombinasi antara stratifikasi tertutup dan terbuka. Misalnya, seorang Bali berkasta Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apabila ia pindah ke Jakarta menjadi buruh, ia memperoleh kedudukan rendah. Maka, ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta. 
2.      Pengaruh Stratifikasi Sosial
          Selain menimbulkan tumbuhnya pelapisan dalam masyarakat, juga munculnya kelas-kelas sosial atau golongan sosial yang telah kita pelajari pada modul terdahulu. Adanya pelapisan sosial dapat pula mengakibatkan atau mempengaruhi tindakan-tindakan warga masyarakat dalam interaksi sosialnya. Pola tindakan individu-individu masyarakat sebagai konsekwensi dari adanya perbedaan status dan peran sosial akan muncul dengan sendirinya. Pelapisan masyarakat mempengaruhi munculnya life chesser & life stile tertentu dalam masyarakat, yaitu kemudahan hidup dan gaya hidup tersendiri. Misalnya, orang kaya (lapisan atas) akan mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidupnya, jika dibandingkan orang miskin (lapisan bawah); dan orang kaya akan punya gaya hidup tertentu yang berbeda dengan orang miskin. Contoh pelapisan sosial yang terjadi dalam masyarakat yaitu gaya hidup masing-masing orang berbeda-beda. Ada orang yang hidup dengan gaya mewah, adapula yang hidup secara sederhana.Pola hidup masyakat tentunya dilatarbelakangi oleh statusnya dalam masyarakat.
3.      Cara Untuk Menanggulangi Pelapisan Sosial
Didalam Agama semua manusia adalah derajatnya sama yang membedakan diantaranya adalah tingkat kadar keimanan mereka, yang di dalamnya diantaranya terkandung ajaran-ajaran cinta kasih antara umat manusia, cinta kasih terhadap tanah air, sudah seyogyanya kita sebagai pemimpin di muka bumi harus bertindak lebih arif dalam menyikapi semua masalah sosial yang terjadi di sekitar kita. Didalam butir-butir pancasila yang berbunyi “Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia”, dengan dasar itu di harapkan bangsa Indonesia akan sadar akan pentingnya persamaan derajat agar tidak terjadi tumpang tin dih antara yang kaya dengan yang miskin.

DAFTAR PUSTAKA


Mawardi, Nur Hidayati, IAD-ISD-IBD untuk uin,stain,dan ptais Pustaka Setia, 2000
http/Wikimedia.net



[1] Mawardi, Hidayati, IAD-ISD-IBD, (Bandung: Pustaka Setia,2000), hl. 244.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar